Hari 1 "berangkat"



Sekitar pukul 07.45 WITA, barang-barang semua anggota atau peserta PPL terintegrasi telah dimuat kedalam sebuah mini truk. Pemberangkatan sendiri tidak serta merta dilaksanakan pasca pemuatan barang tadi. Tak lain adalah karena menunggu mobil angkutan untuk para perempuan yang menjadi mayoritas dalam kegitan ini. Sembari menunggu, Dr. Edhy Rustan M.Pd selaku ketua panitia pelaksanaan kegiatan ini membuka panggung dalam upaya penguatan mental para lakon pilar project ini, mengumpulkan keberanian. Tak berselang begitu lama, yang dinanti telah tiba. kami pun berangkat. 

Bukan tanpa sebab di pertemuan sebelum-sebelumnya beberapa pihak panitia mengatakan bahwa, jalan menuju posko tujuan adalah jika bukan turunan maka pasti itu adalah tanjakan. Karena memang demikian adanya. Beberapa kali motor yang saya tunggangi bersama kawan saya gagal nanjak. Selain terjal nya medan jalan dan sisi amatir nya kami untuk penjelajahan di medan seperti ini, namun memang infrastruktur jalan yang sungguh kurang tersentuh oleh yang berwajib akannya, tentu dalam hal ini adalah pihak pemerintahan beserta para jajarannya. 

Jatuh bangun yang bukan main resiko akan nya selalu mengintai. Butuh keberanian untuk tetap pada pendirian dalam mengikuti dan menyelesaikan program yang menurut saya pribadi, cukup ambisius ini. Tak lain adalah kematangan konsep, kesiapan, dan sarana prasarana yang masih perlu dipertanyakan sekiranya ada waktu. Namun bagiku, hal yang demikian menjadi sesuatu yang tidak perlu lagi. Cukup untuk menjadi bahan refleksi di program yang selanjutnya. Alangkah lebih baik lagi dengan jalannya program ini nantinya, kita tetap senantiasa berembug bersama mencari penyelesaian masalah yang sewaktu-waktu menghampiri.

Tetiba di Posko pertama, tepatnya di Desa Bonglo, Kecamatan Basse Sangtempe (BASTEM) Utara, kami jumpai eksotis nya alam titipan Tuhan. Keindahan alam yang tadinya hendak ku nikmati tak mampu menggeser dan membunuh ketersinggungan sosial yang hinggap di kepala. 

Untuk disebut sebagai ketersinggungan tiba-tiba adalah kurang tepat. Karena memang, pihak panitia telah menginformasikan hasil observasi mereka selama beberapa hari di Bastem ini sendiri. Namun, di relung pikir ku berkata lain. Bahwa informasi yang tersalur kepada ku sebelumnya sungguh masih sekadar kulit-kulitnya saja. Lebih daripada itu. Bagaimana mungkin seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan pakaian lengkap yang semestinya belajar di ruang kelas dengan aman dan nyaman serta belum terbebani pikiran akan dunia kerja profesional yang semisal montir, tapi keadaan yang memaksa demikian. 

Para guru yang telah terjadwal akan membekali para siswa dengan pengetahuan, tapi tak kunjung tiba mengusap daun pintu kelas. Para siswa yang telah berdatangan pun hanya berkeliaran di sekitaran sekolah dengan harapan, bila telah datang sang guru, mereka sudah bisa terima materi pelajaran yang mereka butuhkan. 

Hal yang demikian diatas tak bisa untuk dikatakan sebagai pandangan sepintas belaka. Namun diiringi dengan bincang-bincang dengan mereka yang terkait langsung, walau memang sekejap. Karena memang kami telah dijadwalkan untuk terus lanjutkan perjalanan menuju posko kami sendiri di Desa Lissaga, Kecamatan Basse Sangtempe, Kabupaten Luwu. 

Sesampai didaerah tujuan, kami segera disambut pihak Kecamatan Basse Sangtempe. Para tokoh yang dipersilakan oleh Master of Committee pun t'lah memberi wejangan kepada kami. Untukku pribadi, sangat mengapresiasi pesan-pesan dari pak Camat setempat. Yang semangat jiwa nya masih bergelora. selepas acara "Tudang Sipulung" di kantor kecamatan, kami lantas bersiap menuju posko kami yang bertempat di desa Lissaga, tepatnya di dusun Rarukan. 

Setelah selesai merapikan barang bawaan masing-masing, maka untuk pertamakali nya kami shalat berjamaah (Ashar) di Masjid Darut Tarbiyah. Lalu kami mendapati suasana yang memang telah dikisahkan kepada kami berupa kondisi yang kesadaran akan sholat berjamaah di Masjid yang sangat minim. Menjadi tantangan tersendiri bagi kami untuk bagaimana bisa menyadarkan diri kami sendiri terlebih dahulu, kemudian mengupayakan adanya kesadaran kolektif masyarakat akan kondisi ini, terutama generasi muda yang butuh konsep strategis akan hal ini. 

Sekembali dari masjid, kami adakan bincang-bincang sederhana dengan para pembimbing yang juga merasa prihatin akan kondisi ini, lalu bermunculan beberapa usul akannya. Namun yang pertama harus senantiasa kami lakukan adalah mengobservasi sembari menyediakan solusi secara bersama, mengenal lebih dalam lagi masalah nya agar nantinya solusi nya bisa lebih menyentuh.

Posting Komentar

0 Komentar