Hari 2 "Observasi"


Mengawali hari pertama kami untuk terjun langsung di tiap sendi kehidupan masyarakat, kami bergegas menuju masjid Darut Tarbiyah untuk shalat subuh berjamaah, dan lagi mendapati kondisi sebagaimana sebelumnya saya katakan, miris. Hanya ada Ustadz Iskandar selaku Imam desa, beserta Ustadz Syair Achmadi selaku sekretaris pengurus masjid. Lebih lanjut, ternyata kondisi demikian ini telah berkelanjutan sejak lama, hal ini bukan asumsi pribadi penulis, akan tetapi dari keprihatinan beliau-beliau ini. Olehnya, perlu penerapan khusus sebagai stimulan guna menjawab hal tersebut, khususnya generasi muda yang menurut pribadi penulis harus menjadi target utama sebagai pelopor perubahan.

Dalam bincang-bincang selepas sholat subuh kala itu, kami juga dapati berbagai macam problema yang cukup merisaukan bagi kami. Salah satunya tentang generasi muda Basse Sangtempe, terkhusus desa Lissaga dan Kanna yang menjadi tempat basis posko nya kami. Generasi muda adalah tonggak harapan perubahan, penata, pelestari, dan harapan pada suatu wilayah. lalu bagaimana dengan Lissaga dan Kanna serta beberapa desa lainnya yang "ditinggal pergi" oleh para pemuda-pemudi nya ? ketika telah menginjak usia 15 keatas, mayoritas mereka merantau dalam berbagai agenda, berupa lanjut study, tuntutan kerja, atau sekedar melancong ke daerah lain, serta berbagai agenda lain. ini telah berlangsung lama dan terbudayakan. Saru kata untuk ini, memprihatinkan.

Ini mungkin agak picik atau memandang sebelah mata sekiranya menggeneralisir simpulan tadi, toh ada jua beberapa tokoh muda yang kembali dari tanah rantau untuk membangun tanah kelahiran mereka. Ini patut diapresiasi. Bukan tidak, bila budaya yang sungguh kaya serta alam yang tak usah dipertanyakan potensinya bila dicintai oleh pemuda yang telah mapan, maka ini tentu menjadi harapan bersama. "Dicintai" dalam artian, dikelola sebagaimana mestinya.

Selepas bincang-bincang subuh, kami pun sarapan bersama di Posko, sarapan "nasi merah" atau biasa disebut "barra' rarang" Yang insyaallah akan saya bahas pada kesempatan lain. Selepas sarapan, kami bergegas menuju sekolah di Lissaga dalam rangka Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) nya kami, dengan sedikit lebih bergegas karena ini adalah hari pertama untuk kami disini. Di desa Lissaga ini sendiri telah ada tiga tingkatan atau jenjang sekolah, yaitu SDN 307 BEUMA, SMP negeri 2 Basse Sangtempe, dan SMA negeri 19 LUWU.

Sebagai hari pertama kami di lingkungan sekolah di BASTEM ini, kami belum hendak untuk memulai proses pembelajaran. Akan tetapi masih dalam proses pengenalan (situasi, kondisi, budaya akademik, dll). intinya masih tahap observasi. Kami bincang-bincang ringan namun mendalam dengan para guru setempat.

 Adapun tentang kondisi di SDN 307 Beuma, dari segi kesadaran akan administrasi nya menurut pandangan kami sendiri telah cukup baik, terbukti dari berbagai struktur kepengurusan yang menghiasi dinding kantor sekolah, absensi guru dan murid yang juga cukup diperhatikan, dan catatan untuk pengunjung perpustakaan dan pemijam buku yang tetap terawat. Namun untuk menjadi lebih maju, tentu belum memungkinkan jika hanya sekadar "cukup-cukup baik" saja. perlu ada gebrakan baru untuk tetap bisa bersaing dengan sekolah-sekolah di kota-kota dll. Intinya, pembenahan masih mutlak untuk menjadi tugas bersama. 

Adapun untuk tingkat lainnya, bisa dikata hampir serupa dengan kondisi ditingkat SD tadi. Terkhusus ditingkatan SMA, yaitu SMA negeri 19 LUWU, lebih maju ketimbang dua tingkatan sebelumnya dalam hal kesadaran administrasi nya. Terkait animo baca para siswanya, sungguh masih jauh dari yang diharapkan. Terlebih lagi ditingkatan SMP dan SMA. Disamping tuntutan untuk memperkaya perpustakaan dengan berbagai bahan bacaan, fasilitas memadai guna kenyamanan pengunjung perpus, masalah yang lain yang sangat mempengaruhi minimnya animo baca adalah kurangnya penawaran stimulan untuk tetap membuka lembar-lembar buku yang katanya adalah "jendela dunia" ini. Patut diapresiasi langkah yang diterapkan oleh para guru di SDN 307 BEUMA yang berupa pengalokasian waktu khusus membaca bagi siswa-siswi selama satu jam sebelum dimulainya proses pembelajaran. Hal ini bisa dikatakan sebagai salah satu racikan yang sangat manjur guna obati luka akan minimnya animo baca di sekolah-sekolah. Tak hanya di BASTEM, namun hampir diseluruh sekolah di Tanah Luwu punya penyakit yang sama. 


Hal yang demikian memang pada dasarnya bisa dikatakan masih pada tataran "kesalahan naif", untuk "kesadaran kritis" nya masih belum, namun akan terbangun dengan sendirinya. Daripada menunggu "kesadaran magis" yang entah kapan datangnya. Intinya, gerakan kecil yang berkesinambungan sebagai stimulus perlu untuk dipadukan dan diterapkan. Sembari meracik konsep matang untuk menjawab semua tantangan yang ada.

Posting Komentar

0 Komentar