Pada bebarapa tulisan sebelumnya, penulis telah sedikit beri gambaran tentang betapa kokohnya ikatan sosial masyarakat di Bastem ini sendiri. Tepat di hari ke enam kami di desa Lissaga, dengan ramai-ramai bersama masyarakat, kami menuju areal perkebunan milik salah seorang warga, guna mengumpulkan kayu bakar yang memang banyak tersedia disana. Dengan alat yang tidak bisa dikatakan sederhana, karena memakai sebuah gergaji mesin untuk memotong tangkai bahkan batang pohon yang telah tumbang dan mengering. Adapula warga yang lain membawa alat sederhana seperti parang dan kapak.
Kayu-kayu bakar ini sengaja dipersiapkan jauh hari sebelumnya untuk acara perkawinan salah seorang warga di desa Lissaga beberapa pekan kedepan. Setelah dipotong sesuai ukuran yang pas, maka yang lain memanggul ke pinggir jalan guna diangkut oleh yang lain menggunakan sepeda motor. Sahabat-sahabat posko yang laki-laki ikut terlibat langsung dalam hal ini. Pun dengan Sahabat-sahabat posko yang perempuan nya sebahagian ikut bersama para warga yang perempuan juga tentunya, di dapur. Adapun sebahagian yang lain, tetap menuju ke sekolah dalam rangka jalankan proses pembelajaran berdasarkan jadwal mereka masing-masing.
Dengan bersama, beban berat yang dipikul akan terasa ringan. Demikian hukum alam bekerja. Sesampai dirumah pesta, yaitu rumah pak Fikar, mantan kepala dusun Rarukan, sebahagian warga yang telah menunggu disana bersiap-siap membelah kayu-kayu tadi menjadi potongan yang lebih kecil lagi dengan kapak. Ada juga yang masih sementara dalam perjalanan membawa potongan-potongan bambu yang akan digunakan sebagai rangka tenda untuk digunakan saat pesta nantinya. Tak sampai satu jam, prosesi pembelahan kayu telah rampung. Beristirahatlah kami semua untuk sejenak sembari menunggu bambu tadi. Suguhan teh, kopi, susu, kue, dan aneka ragam hidangan yang lain pun tersedia untuk kami santap sembari istirahat.
Untuk yang beristirahat tetap pada tempatnya, namun sebahagian yang lain tetap asik memilah rotan hutan yang dinamai "Silli" oleh penduduk setempat. Sayapun tak pikir panjang untuk terlibat jua. Mengobati rasa penasaran saya akan asal usul, fungsi, dan ketahanan Silli ini, saya pun terlibat perbincangan dengan warga yang memilah dan memintal Silli tersebut. Dari perbincangan ini saya pun merasa puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan oleh Pak Arnol, salah seorang warga setempat. Ternyata, penggunaan Silli ini telah berlangsung lama dan turun-temurun dipraktekkan hingga terbudayakan. Mengingat Zaman dahulu belum ada tali pengikat dan paku untuk pembuatan rangka suatu bangunan. "Silli inilah yang digunakan oleh nenek moyang kami", demikian ujar beliau.
Tak berselang begitu lama, datanglah rombongan pengantar bambu. Dimulailah proses pembuatan rangka yang dilakukan oleh mereka yang tadinya telah beristirahat. Tentu telah tiba giliran bagi mereka yang baru tiba untuk beristirahat. Walau ada jua yang tetap lanjut kerja. Sebahagian lain mengangkut papan sebagai alas panggung untuk bangunan yang mulai kelihatan bentuk rangkanya. Sebahagian yang lain lagi, memasang atap untuk menutupi dan melindungi bangunan nantinya dari hujan dan terik matahari. Sungguh suatu kerja tim yang luar biasa, budaya gotong-royong yang amat jarang dijumpai dibeberapa daerah lain. Tentu semua melalui komando dari kepala tukang setempat, yang salah satunya ialah pak kepala dusun Tiruan dan kepala dusun Rarukan yang beberapa hari lalu kami kunjungi. Ikatan sosial masyarakat disini begitu kokoh sebagaimana kokohnya tali pengikat tradisional mereka, itulah ikatan "SILLI".
0 Komentar