"Sebagai warga negara yang baik, kita harus saling menghormati dan menghargai sesama dan taat pada aturan. Nanti kalian harus menghormati kakak-kakak KKN yang datang disini mengajar kalian, dan jangan nakal".
Demikian sedikit poin utama amanat upacara yang disampaikan oleh pembina upacara pada saat itu yang sempat saya catat dalam ingatan. Tentu dengan sedikit gubahan gaya bahasa pribadi penulis sendiri berdasarkan poin inti penyampaian dari pembina upacara bendera kala itu, yaitu kepala sekolah SMPN 2 Basse Sangtempe, Bapak Mappaliwang S.Pd. Perlu diingat kembali, untuk sekadar meluruskan bahwa program yang sementara kami ikuti ialah bukan KKN semata, namun PPL TERINTEGRASI yang secara esensi sama.
Terlepas dari hal itu, inilah upacara bendera yang penulis ikuti berselang beberapa tahun lalu yang terakhir kali saya ikuti di sekolah dulu. Sungguh memantik "api" ingatan yang telah cukup lama padam. Berbagai memori kembali mengusik relung ingatan. Salah satunya ialah, pernah suatu waktu saya datang terlambat mengikuti upacara saat masih dibangku Madrasah Tsanawiyah (MTs), sontak hukuman emosional menggerogoti diriku, tak lain adalah perasaan malu. Pun demikian dengan hukuman dari pak satpam yang saya harus jalani, sesuai aturan. Itulah salah satu pengalaman pribadi tentang "Upacara Bendera" yang masih penulis ingat.
Terkait adanya beberapa siswa yang datang dengan terlambat, sudah barang tentu ada "hadiah" tersendiri bagi mereka. Namun dalam kacamata pemakluman, sekitar 90 persen siswa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Mayoritas rumah mereka berjarak 5 kiloan meter dan tentu ditempuh dengan berjalan kaki. Jangan lupa dengan medan jalan yang masih belum "tersentuh" oleh fasilitas negara atau pemerintah sebagaimana daerah lainnya. Namun dengan semangat yang sungguh luar biasa, mereka tempuh itu semua demi keberlanjutan pendidikan mereka. Sungguh perjuangan yang akan selalu mereka kenang nantinya sembari mengharap datangnya "keajaiban" berupa perbaikan dan pembangunan di tanah kelahiran mereka.
Dalam beberapa kisah dari para siswa dikemudian hari yang mereka ceritakan langsung kepada penulis, ada diantara mereka yang berangkat menuju sekolah pada dini hari dengan menggunakan obor sebagai penerang jalan mereka. Jarak mungkin bukan penghalang utama bagi mereka, tapi kekhawatiran mereka sendiri berupa binatang buas atau semacamnya yang sewaktu-waktu dapat membahayakan mereka.
Kembali pada prosesi upacara, yang merupakan hal wajib untuk dilaksanakan dan diikuti oleh seluruh pihak pada suatu sekolah, baik itu siswa, guru, security atau satpam, dan pihak lainnya. Ini tentu berdasarkan UUD kita guna menghormati jasa para pahlawan yang gigih memperjuangkan kemerdekaan, juga untuk menanamkan jiwa patriotisme dalam diri kita, untuk merawat cinta kepada tanah air kita. Walau dalam beberapa tahun lalu, ada pihak yang berasumsi bahwa, upacara adalah hal yang membuang waktu saja. Namun menurut pihak yang lainnya, juga menurut pandangan pribadi penulis, asumsi tersebut adalah hal yang belum memahami esensi dari prosesi upacara bendera itu sendiri.
Setelah upacara bendera usai, para siswa bubarkan barisan dan menuju kelas masing-masing. Walau ada juga yang tetap berkeliaran entah kemana, ada juga yang sementara menikmati "hadiah" dari pak satpam SMP yang belakangan penulis ketahui namanya, Bapak Arrang. Selang beberapa saat, seperti biasanya, prosesi pembelajaran pun berjalan. Saya pribadi mendapatkan jadwal mengajar untuk mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas VIl B di jam pertama dan mata pelajaran BTQ (baca tulis Qur'an) di jam selanjutnya di kelas lX A. demikianlah jadwal mengajar saya untuk hari senin selama program PPL TERINTEGRASI ini berjalan.
Saat jadwal mengajar telah usai, yang ditandai dengan suara adzan di Masjid. Kami pun bergegas merapikan peralatan kami di kelas, Iseng, saya mengajak para siswa untuk menuju masjid untuk shalat berjamaah. Namun mereka berdalih bahwa mereka tidak membawa alat sholat. Berawal dari iseng inilah, bersama Sahabat-sahabat posko yang lain mengkonklusi guna menjawab minimnya orang-orang untuk shalat berjamaah di masjid. Konklusi ini berupa solusi dari problema minimnya jamaah masjid untuk melibatkan tiap jenjang sekolah untuk menerapkan aturan untuk para siswa agar sholat berjamaah di masjid, tentunya dengan absensi sebagai stimulus. Namun hal ini belum serta-merta kami ejawantah kan. Mengingat, langkah utama yang harus kami tempuh adalah "Seminar Program Kerja" di kantor desa yang seharusnya kami lakukan pada pekan pertama kami disini. Namun karena suatu lain hal, belum berjalan. Tentu hal ini menjadi bahan evaluasi bagi kami.
0 Komentar